Dingin yang terlalu gigil sepertinya membuat mata terlalu penat untuk sebentar saja memandang dengan runut sebuah peristiwa,
terlalu khusyuk terpejam oleh gelap yang memeluk lelah
dan ego seringkali membuat tafsir yang terlalu murahan untuk disimpulkan.
Dan beberapa hati yang merah mengakui kepatahan dengan cara meredam percakapan. namun rindu selalu tahu untuk segera menyeleseikan tugasnya, kembali menyatukan suara dan tawa dengan cara mengumpulkan nama, benda, ingatan dan perasaan dalam sebuah doa untuk ia kirimkan kepada penyesalan dengan sebuah kesadaran.
Di luar hujan telah reda dan tulusnya mata menjelaskan arti birunya langit. di mana kesabaran adalah udara penjernih bagi segala yang rumit, pemanis bagi segala kepahitan hidup, dan pembebas segala airmata yang terlalu percuma untuk sekedar jatuh karena kelalaian emosi.
*Love you JAR*
0 komentar:
Posting Komentar