Sabtu, 15 Februari 2014

Notes 2

Dingin yang terlalu gigil sepertinya membuat mata terlalu penat untuk sebentar saja memandang dengan runut sebuah peristiwa,
terlalu khusyuk terpejam oleh gelap yang memeluk lelah
dan ego seringkali membuat tafsir yang terlalu murahan untuk disimpulkan.

Dan beberapa hati yang merah mengakui kepatahan dengan cara meredam percakapan. namun rindu selalu tahu untuk segera menyeleseikan tugasnya, kembali menyatukan suara dan tawa dengan cara mengumpulkan nama, benda, ingatan dan perasaan dalam sebuah doa untuk ia kirimkan kepada penyesalan dengan sebuah kesadaran.

Di luar hujan telah reda dan tulusnya mata menjelaskan arti birunya langit. di mana kesabaran adalah udara penjernih bagi segala yang rumit, pemanis bagi segala kepahitan hidup, dan pembebas segala airmata yang terlalu percuma untuk sekedar jatuh karena kelalaian emosi.




*Love you JAR*







Notes 1


Kepada; yang terakhir

Kali ini aku tak akan lagi membahas tentang kupu-kupu yang tersesat di kepalaku. karena mungkin akan percuma sebab radar kita benar-benar sudah tak bisa lagi saling mengaitkan hati, meski jarak bukanlah persoalan. apa lagi dari kita masing-masing memang sudah tak berharap untuk saling mencoba memperbaiki.

Aku putuskan untuk membiarkan kupu-kupu tersebut untuk tetap tersesat, dan kau tak perlu menepati janji untuk menggiringnya keluar dari kepalaku. aku akan terus menikmati kebingungannya tanpa perlu mempertanyakannya. aku juga akan mengasingkan percakapan kita yang pernah kusimpan entah untuk sebuah apa dengan bantuan waktu. 

Sepertinya ada benarnya kau menyudahi misteri yang ternyata dari awal telah kau sadari arti sebenarnya itu.


Selamat.